Sabtu, 29 Juni 2013

Verbatim Penelitian Kualitatif Psikologi

Verbatim
P : Adeg J ( sambil tersenyum )
S : ngapo yuk ? ( menyembunyikan lem aibon )
P : Ngapoi deg disini malem-malem ?
S : nak ngapo kau yuk, ( jidat berkerut ) serah aku
P : ay deg, ( duduk mendekat ) kalu lah ayuk pacak melok adg nongkrong, bole dag ?
S : bole bae yuk, ( pasang rai males di tanyo )
P : siapo namonyo dek ?
S : aku yuk ye ?
P : iyo deg siapo lagy .,
S : hehe, namo aku jery yuk (nama samaran)
P : adeg ni dari mano ?
S : dari plaju yuk aku, di silabranti sano.
P : jauh nian adeg maen kesini,
S : idak jugo yuk, parak
P : adek ni la berapo lamo disini ?
S : la agak lamo jugo yuk, dag tau lupo jg dag pulo inget adeg yuk,
P : adek sekolah di mano ?
S : ay, la berenti aku yuk sekolah, ( sambil tertawa )
P : ngapo berenti deg ?
S : ay yuk, sekolah tu cak itu cak itulah bosen aku yuk belajar tros, mano guru nak marah bae gawenyo           men kito dag bs nggerjoke soal, pening aku yuk.
P : nah dak takod keno marah mak sm bapak ap deg ?
S : idak yuk wong tuo aku cak la dag peduli lagi samo aku ni, ngorosi adeg tula.
P : memeng nyo adeg berapo beradek ?
S : aku 3 beradek yuk,
P : adeg anak keberapo ?
S :aku anak ke duo yuk, kk aku jugo samo lah dak sekolah, dio jg galak nongkrong disini tapi dag sm aku, am kawan-kawan nyo.
P : yang tadi ngenjok adeg duet yo kk ny
S : iyo yuk itu kk aku.
P : adek disini gawe nyo ngapoi bae ?
S : aku galak maen bae yuk samo kawan.
P : oh, ayuk jingok tadi pas ayuk kesini adek nyingiti lem ( sejauh mata memandang )
S : hehe, ayuk ni tejiingok bae ( cenge-ngesan )
P : ngapo adek pacak ngelem ?
S : melok kawan yuk, di enjok pertamo nyo t, men dag ngisep dag jantan ujinyo ,
P : apo raso ny aibon it deg ?
S : aii lemag yuk , raso cak terbang melayang-layang yuk fly., pacak ngilangi pening yuk dr pada di rumah.
P : ngapo memang di rumah dek ?
S : ay yuk, mak bapak aku tu nag bebala tula, men bapak marah yuk, takod kami, aku be galak di gebok pake sapu oleh bapak tu
P : ngapo pacak keno gebok tu dek ?
S : aku tu galak balek jam 2-3 malem yuk, aku jugo jarang balek ke rumah.,
P : oh, apo bapak dak tedok jam se mak itu dek ?
S : biaso lah yuk, bapak tu galak bejudi hobi nian yuk.
P : oh, galak ngabeske duet ye ? begawe apo bapak ny dek ?
S : begawe di pasar yuk jago toko di pasar 16 sini lah,
P : kalo mamak ?
S : samo yuk, men mamak ngerewangi bapak tula jago toko
P : galak di kasih duet dag adeg ny ?
S : kadang di kasih kadang mintak yuk, tapi jarang yuk di enjok.
P : nah men jarang di enjok cak mn misal adek laper disini ?
S : aku galak makan mie tek-tek bekas yuk, galak kan wong tu dag abes nah di kasih aku yuk, dag tu aku mintak nyo. Dak tu aku galak di enjok kk duet t yuk.
P : oh, trus dr mn adek beli aibon ?
S : aku galak ngamen yuk sm kawan-kawan, hehe..
P : ngapo adek pacak ngelem tu ?
S : men aku dag ngelem yuk, dag di kawani aku yuk disini, katek kawan dak lemak yuk.
P : oh, hm yo sudah dek e, mokaseh nian la galak ngobrol sm ayuk,
S : ay dak jugo yuk, biaso bae
P : adek kito foto-foto dulu to kenang-kenangan .
S : malu yuk ( nyengeh )
P : dpp, biar ayuk inget sm adek, kalu ketemu pacak ayuk tegor
S : iyo yuk.
( berfoto bersama )
P : ayuk balek duluan yo dek, la malem, adek jugo balek lah,
S : iyo yuk, yuk mintak duet yuk aus
P : iyo, ini deg .,
S : mokaseh yu, ati-ati dijalan yuk, ( melambaikan tangan )

P : iy samo* dek, (melambaikan tangan)

Possitiv Thingking :)

Jangan sedih bila orang lain tidak memahami mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau tidak mau memahami orang lain. 
Jangan sedih bila orang lain tidak mempercayai mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau tidak percaya diri sendiri. 
… 
Jangan sedih bila orang lain tidak memberi kesempatan kepada mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau belum buat persiapan. 
Jangan sedih bila orang lain tidak menghargai mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau tidak bisa menghargai orang lain. 
Jangan sedih bila orang lain menghina mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau membuat hina diri sendiri. 
Jangan sedih bila orang lain memaki mu.. 
Tapi sedihlah karena engkau bermulut jahat pada orang lain. 
Jangan sedih orang selalu mengritik kita.. 
Tapi sedihlah karena engkau tak pernah mau perbaiki diri. 
Jangan sedih karena engkau selalu jatuh.. 
Tapi sedihlah karena engkau tak mau bangkit kembali. 
Jangan sedih karena perjalanan hidup engkau pahit getir.. 
Tapi sedihlah karena engkau tak pernah belajar dari pengalaman.

10 Perubahan di Otak Remaja yang Bikin Galau dan Labil

Ada begitu banyak istilah-istilah aneh yang disematkan untuk para remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri. Di dalam otak dan kepalanya, para remaja ini mengalami beberapa perubahan yang perlu diperhatikan.,
Perubahan-perubahan ini dapat menjelaskan perilaku remaja yang acapkali penuh drama, tak rasional dan agresif tanpa alasan yang jelas. Di sisi lain, para remaja ini juga memiliki kebutuhan yang besar akan kebebasan dan kasih sayang. Memang setelah bayi, pertumbuhan otak yang paling drastis terjadi pada masa remaja.
Seperti dilansir LiveScience, Rabu (3/10/2012), berikut adalah 10 perubahan yang terjadi pada otak para remaja:

1. Otak Sedang Dalam Tahap Perkembangan
Usia remaja kebanyakan ditentukan pada rentang usia antara 11 - 19 tahun. Masa-masa ini dianggap sebagai masa kritis pembangunan. Ketika melalui masa pertumbuhan ini, ketrampilan kognitif dan kemampuan baru akan muncul.

"Otak terus berubah sepanjang waktu, tetapi ada lompatan besar dalam perkembangannya ketika memasuki masa remaja. orangtua harus memahami bahwa meskipun anaknya tumbuh besar, pada tahap ini remaja masih berada dalam masa perkembangan yang akan mempengaruhi kehidupannya selanjutnya," kata Sara Johnson, asisten profesor di Sekolah Johns Hopkins Bloomberg of Public Health.

2. Otak Mulai Mekar
Pada bayi, otak mengalami pertumbuhan koneksi yang amat besar. Namun ketika memasuki usia 3 tahun, beberapa sambungan tersebut kemudian dipangkas agar lebih lebih efisien.

Tetapi temuan yang diterbitkan jurnal Nature Neuroscience menegaskan bahwa ledakan pertumbuhan saraf terjadi untuk kedua kalinya tepat menjelang pubertas. Puncaknya adalah saat usia sekitar 11 tahun untuk anak perempuan dan 12 tahun untuk anak laki-laki. Perkembangan ini diperkirakan terus berlanjut hingga usia 25 tahun. Beberapa perubahan kecil juga tetap berlangsung seumur hidup.

3. Memiliki Kemampuan Berpikir yang Baru
Karena meningkatnya sambungan saraf, otak remaja jadi lebih efektif dalam mengolah informasi. Remaja mulai memiliki kemampuan komputasi dan belajar mengambil keputusan layaknya orang dewasa.

Sayangnya, remaja masih terlalu dipengaruhi oleh emosi karena otaknya lebih mengandalkan sistem limbik yang mengedepankan emosi ketimbang korteks prefrontal yang mengolah informasi secara rasional.

4. Rewel Kepada Orangtua
Remaja berada di tengah kesenangan memperoleh keterampilan baru yang luar biasa, terutama yang berkaitan dengan perilaku sosial dan pemikiran abstrak. Tapi karena belum pandai menggunakan, remaja harus melakukan percobaan. Terkadang orangtuanya sendiri dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Banyak remaja melihat konflik sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan mengalami kesulitan untuk berfokus pada hal-hal abstrak atau memahami sudut pandang orang lain. Pada dasarnya remaja masih membutuhkan orangtuanya dengan kematangan emosional agar membantunya tetap tenang.

5. Gejolak Emosi yang Intens
Masa pubertas merupakan awal dari perubahan besar dalam sistem limbik, yaitu bagian otak yang tidak hanya membantu mengatur detak jantung dan kadar gula darah, tetapi juga penting untuk membentuk memori dan emosi. Selama masa remaja, sistem limbik lebih banyak mendominasi dibandingkan korteks prefrontal yang berhubungan dengan kemampuan perencanaan, pengendalian dorongan dan daya nalar yang lebih tinggi.

Bersamaan dengan perubahan hormonal, dampak dominasi sistem limbik ini membuat emosi yang dialami terasa lebih intens, misalnya kemarahan, ketakutan, agresi, kegembiraan dan daya tarik seksual.

6. Sangat Memperhatikan Kata Teman
Karena remaja mulai mampu berpikir abstrak, kecemasan sosialnya pun meningkat. Demikian menurut penelitian yang dimuat jurnal Annals of New York Academy of Sciences. Penalaran yang abstrak memungkinkan remaja memperhatikan bagaimanakah dirinya dilihat oleh orang lain.

Remaja dapat menggunakan keterampilan baru untuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Itulah mengapa remaja sangat mendengarkan pendapat temannya. Namun di sisi lain, teman juga membantu para remaja mempelajari keterampilan baru seperti negosiasi, kompromi dan perencanaan kelompok.

7. Tak Pandai Mengukur Risiko
Kewaspadaan remaja bisa dibilang lambat bergarak karena dominasi sistem limbik yang mengedepankan emosi. Akibatnya remaja memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi dibanding orang dewasa. Secara keseluruhan, perubahan ini dapat membuat remaja rentan terlibat perilaku berisiko seperti mencoba narkoba, terlibat perkelahian atau perilaku lain yang tidak aman.

8. Membutuhkan Figur Orangtua
Sebuah survei terhadap remaja mengungkapkan bahwa 84 persen remaja memikirkan ibunya dan 89 persen memikirkan ayahnya. Lebih dari tiga perempat remaja suka menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Sebanyak 79 persen senang bercengkrama dengan ibu dan 76 persen dengan ayah.

Remaja masih membutuhkan orangtuanya untuk mempelajari bagaimanakah hidup mandiri dan menyiapkan diri untuk membentuk rumah tangganya sendiri.

9. Butuh Tidur Lebih Banyak
Mitosnya adalah remaja lebih banyak membutuhklan waktu tidur ketimbang saat masih kanak-kanak. Namun sebenarnya kebanyakan masalah tidur yang dialami remaja adalah pergeseran ritme sirkadian selama masa remaja. Remaja cenderung bangun siang namun terjaga sampai larut malam.

Ditambah banyaknya kegiatan, banyak remaja akhirnya sampai kurang tidur. Akibatnya dapat memperburuk pengambilan keputusan. Tidur yang cukup dapat membantu otak remaja bekerja lebih optimal.

10. Narsis
Perubahan hormon saat pubertas berdampak besar bagi otak, salah satunya adalah memacu reseptor oksitosin diproduksi lebih banyak. Oksitosin meningkatkan kepekaan sistem limbik dan berkaitan dengan perasaan kesadaran diri, sehingga membuat remaja merasa seolah-olah ada orang yang mengawasi

Hal ini mungkin membuat remaja jadi tampak egois. Di sisi lain, perubahan hormon dalam otak remaja ini juga dapat membuat remaja menjadi lebih idealis. Sampai otaknya berkembang untuk menghadapi isu-isu yang bersifat abu-abu, remaja cenderung berpikir secara sepihak.semoga bermanfaat :*

Hamil 4 Minggu

Salam Bunda,  Aku mau bagikan cerita untuk para bunda yang sedang mengandung di usia kehamilan 4 minggu. Sebelumnya selamat ya bunda ๐Ÿ˜Š Bias...